Happy Birthday ke 480 Jakarta

Walaupun
agak telat, yup..yup..dua hari yang lalu, Jakarta -kota kite tercinte- ulang
tahun yang ke 480. buat info aja… tanggal 22 juni dijadikan tanggal lahir
kota jakarta karena tepat tanggal 22 juni 480 tahun yang lalu, Fatahillah
berhasil mengusir bangsa portugis yang hendak menguasai bandar pelabuhan yang
awalnya bernama sunda kelapa ini. Setelah berhasil mengusir portugis,
Fatahillah merubah nama sunda kelapa menjadi Jayakarta. Dibawah pemerintahan
Belanda, nama Jayakarta berubah kembali menjadi Batavia. Pada saat Jepang
memerintah, nama Batavia diubah menjadi Jakarta dan nama ini terus bertahan
hingga saat ini.

 

480
tahun berlalu…. Tanah ini tanah yang dulu diperintah oleh berbagai bangsa. Ia menjadi
saksi dari berbagai peristiwa. Diatas tanah ini, tak terhitung anak bangsa yang
gugur saat memperjuangkan kemerdekaan dari bangsa penjajah dan diatas tanah ini
pula berguguran mereka yang menuntut kemerdekaan dari praktik tiran penguasa - baik
orde lama maupun orde baru-. Daerah yang awalnya hanya pelabuhan ini telah
berkembang pesat menjadi kota metropolitan yang tampak bagai oase di tengah
gurun yang menarik

 

Saat
ini, 10 juta orang bersama-sama berbagi oksigen di kota yang semakin kotor
dengan asap-asap knalpot kendaraan ini. 10 juta orang berbagi lahan untuk
sekedar membaringkan badan saat lelah mendera di kala malam. 10 juta orang
berbagi rezeki yang telah Tuhan gariskan. 10 juta orang yang menjadi begitu
membenci hujan di bulan januari karena pasti akan memicu banjir. 10 juta orang
yang sama-sama bermimpi merengguk setitik surga dunia di ibukota ini…walaupun
mungkin hanya beberapa saja yang berhasil meraihnya.

 

Seperti
layaknya Ibukota dari negara yang masih berkembang, masalah kemacetan masih
menjadi hal yang paling dikeluhkan warganya. Jalan-jalan yang ada tidak mampu
menampung banyaknya kendaraan yang ada dan ujung-ujungnya menimbulkan
kemacetan. Sampai ada istilah orang jakarta itu tua di jalan. Gimana gak mo tua
dijalan, klo jarak 1 KM aja harus ditempuh –dengan mobil tentunya- dalam waktu  15 menit. Kalau misalnya ada anugrah warga
tersabar sedunia, pasti pengendara mobil di Jakarta bisa menang. Karena saat
macet itu, bukan hanya mesti sabar karena mobil yang gak jalan-jalan dan
tentunya menghabiskan bensin yang kian hari kian mahal, tapi juga mesti
hati-hati terhadap motor yang sering meliuk-meliuk..menyalip dari kiri..bahkan naik
sampai ke atas trotoar..Belum lagi jika terjadi kecelakaan yang melibatkan
mobil dan motor, pengendara mobil lebih sering menjadi pihak yang
dipersalahkan. Apalagi banyak angkot n bus yang sering
gak-tau-diri-ngetem-seenak-jidat di pinggir-pinggir jalan dan parahnya tak
jarang ada OKNUM polisi yang-lagi-bokek-atau-lagi-kejar-setoran yang suka mencari-cari
 kesalahan dan menilang seenaknya. Busway
–yang sempat begitu fenomenal – diharapkan mampu mengurangi kemacetan yang
terjadi. Namun harapan tinggal harapan…. Masalah kemacetan terlalu kompleks
untuk selesai hanya dengan pengadaan busway. Namun pengadaan busway dapat
dianggap sebagai langkah awal yang bagus.

 

Selain
kemacetan, masih ada segudang masalah lagi yang bergumul di kota ini.
Kemiskinan, polusi, rendahnya tingkat keamanan, pengelolaan sampah, dan
berbagai isu lainnya. Tetapi perlahan tapi pasti, kota ini semakin berbenah
diri menjadi lebih baik. Mungkin baru belasan atau puluhan tahun lagi Jakarta
bisa setara dengan Singapura atau Malaysia. Walaupun begitu, jutaan orang masih
terus akan berusaha mengadu nasib di kota ini. Semoga saja gubernur yang baru
kelak mampu sedikit demi sedikit memperbaiki Jakarta. Menjadikannya semakin
ramah tidak hanya pada mereka yang tinggal di gedung-gedung yang semakin
mencakar langit tetapi juga pada mereka yang tiap malam berbaring dalam
petak-petak kardus di bawah kolong-kolong jembatan sambil ditemani deru-deru
kendaraan yang tak pernah berhenti di kota yang jelas tak kenal kata istirahat
ini.   

Leave a Reply